Utamakan Diplomasi Dan Dialog Untuk Solusi Damai Bagi Masalah Suriah

Indonesia terus mendorong percepatan penghancuran senjata kimia oleh possessor States sesuai amanat ketentuan Konvensi Senjata Kimia (KSK). Demikian disampaikan oleh Duta Besar RI Den Haag, I Gusti A. Wesaka Puja, dalam kapasitas sebagai Ketua Delegasi RI dalam Konferensi Negara Pihak KSK (anggota Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atau OPCW) ke-21 di Den Haag, pada 28 November – 2 Desember 2016. Sebagaimana diketahui, possessor States tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia dan Libia.

Dalam kesempatan Konferensi kali ini, Indonesia menekankan pentingnya universalitas KSK. Namun digarisbawahi bahwa tingkat universalitas KSK yang tinggi tidak serta merta menghapus kemungkinan penggunaan senjata kimia. Di samping itu, adanya ancaman penyalahgunaan bahan kimia beracun oleh aktor bukan negara yang semakin nyata, sebagaimana yang telah terjadi di Suriah dan Irak, seharusnya mendorong negara-negara untuk segera bergabung dengan KSK. Negara-negara yang belum bergabung saat ini adalah Israel, Korea Utara, Mesir dan Sudan Selatan.

Adanya penggunaan senjata kimia tersebut telah dikonfirmasi oleh Mekanisme Investigasi Gabungan PBB-OPCW (United Nations – OPCW Joint Investigative Mechanism atau JIM). Beberapa negara mengecam penggunaan senjata kimia di Suriah pada tahun 2014-2016, sebagaimana telah dilaporkan oleh JIM, dan menganggap bahwa pemerintah dan militer Suriah harus bertanggung jawab.

Namun beberapa negara lainnya seperti Rusia, Tiongkok dan Iran menganggap bahwa OPCW bukan forum yang tepat untuk menghakimi pemerintah Suriah atas laporan JIM tersebut. Negara-negara tersebut juga menyayangkan adanya politisasi masalah Suriah dalam tubuh OPCW.

Mengenai masalah penggunaan senjata kimia di Suriah, Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam, namun tetap mendesak semua pihak untuk menghormati proses investigasi yang masih berjalan, seiring dengan perpanjangan mandat JIM melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2319 (2016) beberapa waktu lalu. 

JIM diharapkan melakukan tugasnya secara objektif, imparsial dan profesional dengan dukungan penuh dari seluruh negara, terutama Suriah. “Indonesia mengharapkan semua pihak untuk dapat bekerjasama sepenuhnya serta mengutamakan diplomasi dan dialog untuk mencapai solusi damai”, terang Dubes Puja.

Meskipun pembahasan didominasi oleh masalah Suriah, Konferensi tersebut juga telah membahas isu lainnya, seperti penghancuran senjata kimia, implementasi KSK dan kerja sama.

Indonesia termasuk negara yang terus mendorong OPCW untuk mengambil peran lebih maksimal dalam memfasilitasi negara-negara anggotanya guna melakukan pertukaran teknologi kimia, keahlian, dan IT terkait pengembangan industri kimia yang tidak dilarang oleh KSK, yang dapat berdampak positif pada pengembangan ekonomi.

Konferensi tahun ini telah dihadiri oleh 192 negara Pihak KSK dan para peserta peninjau, seperti NGO internasional, asosiasi industri kimia, dan keluarga korban dari penggunaan senjata kimia. Delegasi RI yang hadir pada Konferensi tersebut adalah wakil dari Kementerian Koordinator Polhukam, Kementerian Luar Negeri, dan KBRI Den Haag/Perwakilan Tetap RI untuk OPCW.

Den Haag, 3 Desember 2016

Politik/Pensosbud

KBRI Den Haag, Belanda

sexofogo.com

Follow Us