Pemusik Kontemporer Indonesia tampil di Europalia

Acara Rewire X Korzo #8 yang diadakan pada tanggal 12 November 2017 di Korzo Theater, Den Haag, ini merupakan sebuah ajang musik yang bertemakan kontemporer. Salah satu bintang tamu yang mewakili Europalia di acara tersebut ialah Otto Sidharta. Pria berkelahiran asal Bandung ini sudah tergolong terkenal di dunia musik kontemporer Indonesia sebagai pencetus semenjak tahun 70-an.

Penonton mulai memasuki area lokasi Korzo Theater pada pukul 15:00. Acara dibuka oleh panitia dari Korzo Theater, kemudian langsung dimulai dengan penampilan musik dari Otto Sidharta sebagai pembuka, kemudian dilanjutkan oleh 3 musisi lainnya. Diantara 3 musisi tersebut, terdapat juga Rabih Beaini dan Tarawangsawelas yang juga tampil sebagai salah satu musisi dari Europalia.

Bermodalkan sebua laptop dan satu mixer, Otto yang merupakan bintang tamu pada acara Rewire x Korzo #8 ini memulai acara dengan membawakan satu lagu uniknya yang berjudul Lament. Sebelum ia mulai memainkan Lament,Otto mengungkapkan bahwa lagu tersebut ia ciptakan untuk mengenang para korban-korban terorisme disuluruh dunia. Otto mampu menggaet perhatian 201 orang penonton dengan aransmen musik yang bermandikan suasana sunyi dan seolah membuat para penonton berpikir. Aransmennya tergolong bertempo pelan, suara-suara seolah serupa dengan sirine dan dipadukan dengan melodi-melodi elektronik. Silau lampu berwarna biru-orange-merah dipijarkan bergantian dan juga bersamaan menyelimuti panggung, memberikan efek suasana yang tenang kepada penonton.

Setengah jam pun berlalu untuk Lament, Otto kemudian mengakhiri lagunya dengan perlahan-lahan mengecilkan volume sehingga melodi-melodinya seakan menghilang secara perlahan. Korzo Theater Den Haag yang malam itu tiketnya terjual habis pun penuh dengan suara apresiasi untuk Otto. Ia kemudian membungkukkan badan kepada penonton sebagai tanda terima kasih, dan berjalan pergi dari panggung.

Selain Otto Sidharta, Tarawangsawelas juga berkesempatan tampil pada acara Rewire x Korzo #8. Tarawangsawaelas adalah sebuah grup musik asal Bandung yang berdiri atas dua orang bernama Teguh Adi Permana dan Wisnu Ridwana. Mereka berkolaborasi dengan produser dan seorang disk jokey (DJ) asal Lebanon bernama Rabih Beaini yang juga dikenal dengan Morphosis, ahli musik elektronik. Tarawangsawelas sendiri ahli dalam memainkan alat musik tradisional Sunda. Kedua pemusik ini sangat unik karena mereka memadukan dua genre musik yang sangat berbeda dan menjadikannya satu kesatuan yang sangat indah.

Tarawangsawelas dan Rabih Beanini adalah bintang tamu ketiga yang tampil pada Rewire x Korzo #8. Penonton yang kebanyakan adalah anak-anak muda internasional dan Belanda menunggu dengan sabar untuk menonton pemain-pemain musik yang sangat unik dan yang menginspirasikan. Ruangan teater pun penuh dan bahkan ada beberapa penonton yang juga duduk di tangga karena tidak kedapatan tempat duduk. Walaupun begitu, mereka tetap sangat antusias untuk menonton.

Pada pukul 17:00 WS, ruangan teater digelapkan dan lalu pemain diberi lamp sorot dan semua mata penonton tertuju pada mereka. Teguh dan Wisnu duduk berhadap-hadapan dan sang DJ. Pertunjukan dimulai oleh Rabih yang memainkan alat DJ-nya dan setelah beberapa saat Teguh dan Wisnu mulai bermain. Lagu pertama yang dibawakan mereka sangat beralur dan terdengar modern. Lagu dimulai dengan mood yang sangat santai lalu intensitas dari lagu naik dan menjadi sangat teatris.  Dari lagu pertama ini, bisa dilihat bahwa penonton sangat menyukainya dan mereka diberi tepukkan tangan yang sangat meriah. Mereka pun lanjut ke lagu kedua mereka yang mengganti suasana teater. Alat musik tradisional di lagu kedua ini lebih terdengar dan memberikan nuansa yang sangat Indonesia.

Mereka pun sangat senang bisa dapat tampil dan mengharumkan nama Indonesia ke kalangan internasional. Selain bermain di Den Haag mereka juga akan tampil di Jerman.

sexofogo.com

Follow Us